JOMBANG — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menekankan pentingnya peran ilmu pengetahuan dan turats nabawi (warisan tradisi kenabian) sebagai sarana universal untuk melampaui berbagai sekat bangsa, ras, maupun golongan, sekaligus sebagai pijakan utama dalam membangun kebersamaan di tengah masyarakat.
Hal tersebut disampaikan dalam acara yang berlangsung di lingkungan Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Dalam amanatnya, kepemimpinan PBNU menyampaikan bahwa tanggung jawab besar yang diemban organisasi saat ini adalah menyatukan pemikiran-pemikiran umat Islam, baik pada tingkat nasional maupun global.
Ilmu Pengetahuan Menembus Batas Negara dan Zaman
Dalam pandangannya, sifat dasar keilmuan adalah tidak terbatas oleh batas-batas administratif maupun geografi. Semangat ini telah diteladankan sejak awal oleh pendiri Nahdlatul Ulama, KH M. Hasyim Asy'ari (Hadratussyeikh).
"Ilmu itu menembus sekat-sekat; tidak ada sekat negara, batas negara, maupun ras dan golongan. Sebagaimana dulu Hadratussyeikh sejak di Makkah telah bersahabat dengan kawan-kawannya dari berbagai negara Islam, dan komunikasi itu tetap tersambung hingga beliau berada di Tebuireng," jelasnya.
Jejak sejarah keilmuan dan hubungan internasional Hadratussyeikh tersebut kini kembali mengemuka. Pemerintah Mesir, melalui Menteri Wakaf, baru-baru ini menyampaikan informasi berharga mengenai keberadaan dokumen dan surat-surat bersejarah milik Kiai Hasyim Asy'ari yang tersimpan di Mesir serta mengundang PBNU untuk mengambil dokumen tersebut.
Tak hanya dengan Timur Tengah, diplomasi keilmuan NU juga tercatat memiliki rekam jejak panjang dengan negara-negara di Asia. Pidato dan tulisan Hadratussyeikh yang sempat disampaikan kepada Pemerintah Jepang mengungkapkan bahwa hubungan komunikasi antara Nahdlatul Ulama dan pemerintah Jepang telah terjalin sejak tahun 1930-an—sebuah fakta sejarah yang selama ini belum banyak terlampir dalam pustaka sejarah umum.
Hadis dan Turats Nabawi Sebagai Solusi Bermasyarakat
Lebih lanjut, ditegaskan bahwa penguatan keilmuan dalam bingkai Mu'tamar Turats Nabawi menjadi sangat krusial karena warisan kenabian merupakan panduan terbaik dalam kehidupan bermasyarakat.
Meskipun Hadratussyeikh KH Hasyim Asy'ari menguasai berbagai disiplin ilmu Islam seperti Al-Qur'an, tafsir, dan fiqih, penekanan utama di Pesantren Tebuireng secara historis terfokus pada kajian hadis dan ilmu hadis (hadits wa 'ulumihi).
"Penguasaan hadis dan ilmunya merupakan kebutuhan nyata untuk menjawab dinamika saat terjun ke tengah masyarakat," tambahnya.
PBNU berharap integrasi antara pemahaman turats dan kebutuhan sosial dapat diimplementasikan secara nyata oleh seluruh warga NU dan umat Islam pada umumnya guna memperkuat rasa persaudaraan (ukhuwah) serta merekatkan kebersamaan bangsa.
