Inovasi VBT: FK Unhas Kupas Tuntas Solusi Modern Penanganan Skoliosis Tanpa Fusi

Inovasi VBT: FK Unhas Kupas Tuntas Solusi Modern Penanganan Skoliosis Tanpa Fusi

 Skoliosis merupakan kelainan lengkung tulang belakang yang kerap menyerang anak-anak serta remaja pada masa pertumbuhan mereka. Jika tidak mendapatkan penanganan tepat sejak dini, kondisi ini berpotensi memicu perubahan postur tubuh yang signifikan dan mengganggu kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, edukasi mengenai metode deteksi dan penanganan terbaru sangat krusial untuk disebarluaskan kepada masyarakat luas.


Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (FK Unhas) menunjukkan komitmen nyata dalam memperbarui ilmu kedokteran tanah air melalui kolaborasi global. Langkah ini terwujud lewat penyelenggaraan kuliah tamu intensif yang menggandeng pakar ortopedi terkemuka dari SingHealth Singapura. Melalui forum akademik ini, para akademisi dan praktisi medis lokal dapat menyerap perkembangan teknologi kesehatan tulang belakang yang paling mutakhir.


Vertebral Body Tethering (VBT) kini hadir sebagai angin segar sekaligus alternatif inovatif dalam dunia ortopedi modern. Teknologi medis ini menawarkan pendekatan yang berbeda dari metode konvensional karena mampu mempertahankan fleksibilitas dan ruang gerak tubuh pasien. Pembahasan mendalam mengenai keunggulan teknik ini menjadi fokus utama dalam mengatasi tantangan pengobatan kelengkungan tulang belakang.


Kolaborasi Global FK Unhas dan SingHealth

FK Unhas menggelar Guest Lecture bertajuk "Beyond the Brace: Vertebral Body Tethering as a Motion-Preserving Solution for Scoliosis" di Aula PPDS FK Unhas. Dalam kegiatan edukatif ini, pihak kampus menghadirkan pakar bedah ortopedi dan tulang belakang dari Singapore General Hospital, Prof Reuben Soh. Melalui pemaparannya, ia mengenalkan berbagai terobosan medis terbaru yang dapat membantu pasien memperbaiki struktur tubuh mereka secara optimal.


Batasan Terapi Brace dan Kepatuhan Pasien

Prof Reuben Soh menjelaskan bahwa penanganan skoliosis sangat bergantung pada tingkat kematangan tulang serta derajat kelengkungan pasien. Pada kasus dengan kelengkungan mencapai 25 derajat, dokter biasanya merekomendasikan penggunaan brace untuk menahan laju progresivitas kelainan. Berbagai riset membuktikan bahwa pemakaian brace selama 16 hingga 22 jam per hari efektif menekan perkembangan sudut kelengkungan, meskipun tingkat keberhasilannya mutlak menuntut kepatuhan tinggi dari pasien.


Mengenal Vertebral Body Tethering (VBT) sebagai Solusi Fleksibel

Vertebral Body Tethering (VBT) menjadi sorotan utama karena memanfaatkan potensi alami pertumbuhan tulang untuk mengoreksi kelengkungan secara bertahap. Teknik ini bekerja dengan cara memperlambat pertumbuhan pada sisi tulang belakang yang cembung seiring bertumbuhnya fisik pasien. Prof Reuben Soh menegaskan bahwa VBT bukan berfungsi sebagai pengganti operasi fusi, melainkan alternatif terbaik yang mempertahankan mobilitas alami serta kelenturan skoliosis.


Kesimpulan

Inovasi Vertebral Body Tethering (VBT) menawarkan masa depan cerah bagi penanganan skoliosis yang lebih adaptif dan ramah terhadap mobilitas pasien. Melalui sinergi edukasi seperti yang dilakukan oleh FK Unhas, akses terhadap informasi teknologi medis mutakhir ini dapat mendorong penanganan dini yang lebih efektif. Pemilihan terapi yang tepat dan pemanfaatan masa pertumbuhan anak menjadi kunci utama dalam memulihkan struktur serta fungsi normal tulang belakang.

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Inovasi VBT: FK Unhas Kupas Tuntas Solusi Modern Penanganan Skoliosis Tanpa Fusi
  • Inovasi VBT: FK Unhas Kupas Tuntas Solusi Modern Penanganan Skoliosis Tanpa Fusi
  • Inovasi VBT: FK Unhas Kupas Tuntas Solusi Modern Penanganan Skoliosis Tanpa Fusi
  • Inovasi VBT: FK Unhas Kupas Tuntas Solusi Modern Penanganan Skoliosis Tanpa Fusi
  • Inovasi VBT: FK Unhas Kupas Tuntas Solusi Modern Penanganan Skoliosis Tanpa Fusi
  • Inovasi VBT: FK Unhas Kupas Tuntas Solusi Modern Penanganan Skoliosis Tanpa Fusi
Posting Komentar